Jombang – Pelaksanaan Mujahadah Kubro Sholawat Wahidiyah kembali digelar dengan khidmat dan menjadi salah satu agenda keagamaan berskala besar yang menarik perhatian jemaah dari berbagai daerah, termasuk dari luar negeri. Rangkaian Mujahadah Kubro ini merupakan bagian dari pengamalan Sholawat Wahidiyah yang dikaitkan dengan peringatan Isra Mi’raj Nabi Muhammad SAW serta haul Mu’allif Sholawat Wahidiyah. Kegiatan juga diisi doa untuk bangsa dan negara, sementara pelaksanaannya terpantau berlangsung tertib dan khusyuk sebagaimana terlihat dari sejumlah siaran langsung serta dokumentasi yang beredar di media sosial.
Sejalan dengan rangkaian kegiatan tersebut, Pondok Pesantren At Tahzib yang berlokasi di Dusun Grenggeng, Desa Rejoagung, Kecamatan Ngoro, Kabupaten Jombang turut menyelenggarakan Kegiatan Kemah Kubro Wahidiyah sebagai agenda pembinaan dan konsolidasi jamaah, khususnya bagi segmen pemuda dan peserta yang mengikuti kegiatan kemah.
Pelaksanaan kegiatan berlangsung pada 30-31 Januari 2025, dengan rangkaian acara yang memadukan aktivitas spiritual dan pembinaan kedisiplinan dalam suasana kebersamaan.
Dalam pelaksanaannya, peserta mengikuti kegiatan mujahadah, doa bersama, serta rangkaian pembinaan yang menekankan penguatan nilai religius, kekompakan, dan kepatuhan terhadap tata tertib kegiatan.
Kegiatan kemah ini menjadi ruang penguatan karakter bagi peserta melalui aktivitas terjadwal yang berjalan sejak hari pertama hingga penutupan, dengan dinamika massa yang relatif tinggi karena diikuti oleh peserta dari berbagai wilayah. Kehadiran peserta lintas daerah turut menggambarkan jaringan jamaah yang solid dan kemampuan panitia dalam menghimpun partisipasi, sekaligus menunjukkan bahwa kegiatan tersebut tidak hanya berorientasi pada ibadah, namun juga penguatan kaderisasi dan pembentukan solidaritas jamaah.
Dari sisi sosial kemasyarakatan, kegiatan skala besar seperti Kemah Kubro berpotensi mendorong perputaran ekonomi lokal melalui kebutuhan konsumsi peserta, logistik panitia, serta aktivitas pendukung di sekitar lokasi, meskipun tetap memerlukan pengelolaan kerawanan seperti kepadatan massa, pengaturan parkir, serta kelancaran arus keluar masuk jemaah agar situasi tetap kondusif.
