Sawit Jadi Devisa Terbesar Indonesia, Kunci Energi Masa Depan

IMG 20251229 WA0053
IMG 20251229 WA0053

Jakarta – Industri kelapa sawit kembali membuktikan perannya sebagai salah satu tulang punggung ekonomi Indonesia. Sebagai produsen terbesar dunia dengan pangsa 58% pasar global, sektor ini menyumbang devisa negara lebih dari USD 30 miliar per tahun.

“Sawit bukan hanya komoditas biasa, tetapi pilar utama ekonomi yang menggerakkan kehidupan 16 juta pekerja dan keluarganya,” ujar Julian, Direktur Eksekutif Youth Environment Institute (YEI).

Kontribusi Ekonomi Berlipat

Selain menyumbang devisa, industri sawit memberikan efek berganda yang besar bagi perekonomian nasional.

Sektor ini menyerap lebih dari 16 juta tenaga kerja, mulai dari petani hingga pekerja industri hilir. Selain itu, penerimaan negara dari pajak dan levy sawit turut dialokasikan untuk pembangunan infrastruktur serta peningkatan kesejahteraan petani, sekaligus menopang stabilitas ekonomi kerakyatan di berbagai daerah.

B50: Hemat Devisa dan Kurangi Emisi

Program biodiesel B50 (campuran 50% biodiesel sawit dengan solar) dinilai sebagai langkah strategis Presiden Prabowo Subianto dalam mewujudkan kemandirian energi nasional. Program ini membawa sejumlah manfaat:

* Menghemat devisa impor BBM hingga miliaran dolar AS per tahun
* Menjaga stabilitas harga energi karena diproduksi dalam negeri
* Menyerap CPO domestik sehingga menstabilkan harga di tingkat petani
* Mengurangi emisi hingga 80% dibandingkan bahan bakar fosil

Selain biodiesel, sawit juga berpotensi dikembangkan menjadi bioavtur (SAF) untuk industri penerbangan, bioethanol dari limbah sawit, serta biomassa untuk pembangkit listrik.

Keunggulan Kompetitif Indonesia

Dengan luas perkebunan mencapai 16 juta hektare, Indonesia memiliki keunggulan alamiah. Sawit mampu menghasilkan minyak hingga 10 kali lebih banyak per hektare dibanding tanaman minyak nabati lainnya, sehingga menjadi pilihan paling efisien untuk program bioenergi nasional.

“Pengembangan bioenergi sawit adalah strategi kedaulatan energi sekaligus peningkatan kesejahteraan rakyat. Kita bukan hanya lepas dari ketergantungan energi fosil impor, tetapi juga menciptakan lapangan kerja hijau,” tambah Julian.

Pemerintah juga terus mendorong praktik keberlanjutan melalui sertifikasi ISPO dan RSPO, sehingga Indonesia dapat memposisikan diri sebagai pemimpin global dalam transisi energi berbasis biomassa.

Berdasarkan kajian YEI, kelapa sawit memberikan kontribusi ganda bagi Indonesia: sebagai penyumbang devisa terbesar sekaligus sumber energi terbarukan masa depan. Program B50 dan inovasi bioenergi lainnya dinilai menjadi kunci kemandirian energi serta pertumbuhan ekonomi berkelanjutan menuju Indonesia Emas 2045.

Pos terkait